Sungai Mewek
Tinjauan Historis Asal-Usul Nama Sungai Mewek
Disusun Oleh: Devan Firmansyah (Admin)
A. Mengenal Sungai Sebagai Bagian dari Peradaban (Pendahuluan)
Menurut ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’ (Depdiknas, 2001:1104), sungai adalah aliran air yang besar. Sedangkan menurut ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai’, menyatakan sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Sungai sendiri memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan oleh makhluk hidup khususnya oleh manusia.
Menurut Darmanto dan Sudarmadji (2013:232-234), ada beberapa hal yang dapat dimanfaatkan dari aliran sungai, yaitu: a) Digunakan untuk irigasi pertanian; b) Dibendung di beberapa sisinya untuk membuat sebah kolam ikan, guna keperluan usaha perikanan; dan c) Sungai yang bersih airnya dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti, mencuci pakaian dan juga mencuci kendaraan (hewan ternak juga dapat dimandikan di sungai, pen).
Kemudian ada juga pemanfaatan sungai yang dilakukan secara negatif oleh manusia, yaitu sebagai tempat membuang sampah-sampah. Hal ini tentu sangat disayangkan karena dapat menyebabkan banjir. Selain masalah pembuangan sampah sembarangan oleh manusia di sungai, terdapat pula beberapa masalah lain yang dapat mempengaruhi penurunan dari kualitas sungai.
Masalah tersebut antara lain: 1) Kepadatan penduduk, kepadatan penduduk dapat ditengarahi mampu mengurangi ketersediaan air sungai, dikarenakan kebutuhan penduduk akan air yang sanagt besar; 2) Polusi, polusi terhadap sungai diakibatkan oleh pembuangan limbah ke sungai yang tidak diolah terlebih dahulu sebelumnya, hal ini mengakibatkan air sungai tercemar. Sehingga membuat penduduk terutama dari kalangan yang miskin kesulitan mendapatkan air bersih; dan 3) Konflik air, konflik air ini terjadi antara industri dan rakyat kecil, contoh konflik tersebut misalnya penyedotan dan pembuangan limbah besar-besaran di hulu sungai menyebabkan petani yang berada di hilir sungai menjadi menderita. Kemudian pemanfaatan air untuk keperluan PLTA juga memperparah terbatasnya persediaan air untuk irigasi serta untuk memnuhi kebutuhan air di wilayah urban (Hursh, dkk, 2008:02-05).
Masalah-masalah yang telah dipaparkan pada uraian diatas tersebut, tentu harus dapat kita selesaikan bersama. Karena pada kenyataannya tidak dapat kita pungkiri bahwa manusia tidak bisa lepas dari yang namanya sungai. Hal itu dikarenakan sungai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah dan budaya manusia. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak peradaban besar dan maju di dunia lahir dekat sungai. Peradaban Mesir lahir dekat dengan Sungai Nil, Peradaban Mesopotamia lahir dekat dengan Sungai Tigris dan Sungai Eufrat, Peradaban India Kuno (Mohenjo-Daro & Harappa) lahir dekat dengan Sungai Indus, dan peradaban China Kuno lahir dekat Sungai Huang Ho (Kuning) dan Sungai Yang Tze.
Sebenarnya, tidak hanya di luar negeri saja yang memunculkan banyak peradaban. Di Indonesia pun banyak peradaban yang muncul dekat sungai. Contohnya peradaban di Jawa Timur yang dekat dengan Sungai Brantas. Daerah yang berdekatan dengan Sungai Brantas telah banyak memunculkan berbagai macam kerajaan. Kerajaan-kerajaan itu bermunculan mulai dari kerajaan yang dipimpin oleh Raja Airlangga (Kerajaan Medang, pen) yang berpusat atau beribukota di Kahuripan, letaknya tidak jauh dari Sungai Brantas. Lalu, berlanjut pada masa Kerajaan Panjalu dan Jenggala hasil dari pembagian Raja Airlangga kepada anak-anaknya, yang juga menguasai delta Sungai Brantas. Kemudian berlanjut ke Kerajaan Kediri, Singhasari dan Majapahit juga tidak jauh perannya dari Sungai Brantas. Hal ini dikarenakan Sungai Brantas telah menjadi sumbu kekuatan politik dari kerajaan-kerajaan itu (Daldjoeni, 1984:85-86).
Sungai Brantas juga melintasi wilayah Kota Malang dan menjadi salah satu sungai penting di Kota Malang selain Sungai Bango, Sungai Amprong, Sungai Kajar, Sungai Metro dan Sungai Mewek. Sungai-sungai yang melewati Kota Malang itu telah menyumbangkan banyak hasil kebudayaan dan sejarah di sekitarnya bagi Kota Malang. Nama terakhir yaitu “Sungai Mewek”, adalah salah satu nama sungai yang cukup unik dan menarik untuk dikaji. Mengapa dinamakan ‘Mewek’ yang berarti ‘menangis’? Benarkah terdapat suatu peristiwa menyedihkan dibalik nama ‘Mewek’ tersebut? Dan apakah terdapat peradaban dan sejarah disekitar Sungai Mewek tersebut di masa lampau? Berikut ini akan kita ulas satu persatu pertanyaan tersebut pada bab-bab di bawah ini.
B. Aliran, Ekologi dan Kebudayaan Masyarakat di Sekitar Sungai Mewek
Sungai mewek atau biasa masyarakat menyebutknya dengan sebutan “Kali Mewek”, merupakan satu dari beberapa anak aliran Sungai Brantas dengan letak kordinat 7°55'30"S 112°39'3"E sampai dengan 7°56'30"S 112°40'3"E (Adam & Maftuch, 2014:111). Sungai Mewek ini memiliki panjang sungai sebesar 8.647 m dan lebar 20 m. Debit air rata-rata maksimum 0.456 m3/detik dan debit air rata-rata minimum 0.228 m3/detik dengan dasar kali berbentuk huruf ‘U’, berbatu. Arus air lemah dengan kedalaman air rata-rata 3 meter (LAKIP Kecamatan Lowokwaru, 2013:13).
Jika kita melihat dan mengamati aliran Sungai Mewek pada “Peta Kota Malang dan Perembangannya”, maka kita akan dapati bahwa Sungai Mewek bersama dengan anak-anak sungainya melewati setidaknya lima buah kelurahan yaitu Kelurahan Tasikmadu, Kelurahan Tunjungsekar, Kelurahan Polowijen, Kelurahan Balearjosari dan Kelurahan Arjosari. Untuk bentuknya sendiri bentuk hulu Sungai Mewek, berbukit-bukit dan lerengnya curam sehingga banyak jeram. Sedangkan bagian tengah Sungai Mewek, kondisinya relatif landai, berkelok-kelok dan banyak aktivitas penduduk. Kemudian bagian hilir Sungai Mewek, kondisinya landai, subur dan banyak areal pertanian.
Sedangkan untuk ekosistem dari Sungai Mewek sendiri, dapat kita dapati beberapa jenis flora dan fauna alami yang mendiami sekitar DAS Mewek. Untuk jenis-jenis flora, yang tumbuh di sepanjang aliran DAS Mewek, sebagai berikut ini:
• Tumbuhan Perdu (Semak Belukar): Ki Korejat/Ki Tolod (Laurentia longiflora); Bandotan/Babadotan (Ageratum Conyzoides); Suplir (Adiantum Sp); Paku Kenying (Asplenium Scandicium); Ajeran (Bidens Spilosa); Calincing (Oxallis Barrelieri); Putri Malu (Mimosa Pudica); Temu Wiyang/Jonge (Emilia sonchifolia); Talas (Colocasia esculenta); Awar-awar (Ficus Septicum); Boroco/Bayam Ekor Belanda (Celosia Argentea); Sidaguri (Sida Rhombifolia); Pegagan/Antanan (Centella Asiatica); Suruhan (Peperomia Pellucida); Sintrong (Crassocephalum Crepidioides); Mikania (Mikania Micrantha); Kenikir (Cosmos Caudatus); Wedelia (Sphagneticola Trilobata); Kirinyuh (Chromolaena Odorata); Genjer/Paku Rawan (Limnocharis Fava); Patikan Kebo (Euphorbia hirta); dan Salak (Salacca zalacca).
• Tumbuhan Rerumputan: Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum); Rumput Teki (Cyperus Rotundus); Padi (Oriza Sativa); Rumput Belulang (Eleusine indica); Tebu (Saccharum officinarum); Rumput Raja (Pennisetum purpupoides); Rumput Benggala atau Guinea grass; dan Rumput Setaria (Setaria sphacelata).
• Tumbuhan Air: Kiambang (Salvinia Natans); Semanggi (Marsilea Crenata); dan Wewehan.
Selain berbagai macam flora yang tersebar di sepanjang DAS Mewek, kita dapati juga beberapa fauna juga bertebaran sepanjang DAS Mewek. Adapun beberapa jenis-jenis fauna tersebut antara lain:
• Serangga: Belalang (Dissosteira Carolina) dan Kupu-kupu (Appias Libythea).
• Reptil: Kadal (Mabuya multifasciata); dan Ular (Naja Haje).
• Molusca: Keong Sawah (Pila Ampullacea).
• Annelida: Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus).
• Burung (Aves): Bangau Putih (Bubulcus Ibis) dan Burung Walet (Collocalia Esculenta).
Dari paparan di atas, dapat kita ketahui bahwa flora dan fauna yang menyebar di sekitar DAS Mewek begitu banyak dan beragam. Hal ini tentu menjadi kekayaan ekosistem disekitar DAS Mewek. Selain kekayaan berupa flora dan fauna yang sudah disebutkan diatas, terdapat kekayaan lain disekitar DAS Mewek, yaitu kekayaan budaya berupa seni tradisi lokal masyarakat agraris di sepanjang desa atau kelurahan yang dilalui Sungai Mewek. Seni tradisi lokal yang ada di desa-desa yang dilewati Sungai Mewek, antara lain Pengajian Senin Pon, Kesenian Jador dan Jaran Kepang. Hal ini semakin memperkaya khazanah budaya di sekitar DAS Mewek.
C. Asal-Usul Nama (Toponimi) Sungai Mewek Berdasarkan Tradisi Oral (Lisan)
Tibalah kita pada hal yang menarik untuk dibahas, yaitu asal mula nama dari Sungai “Mewek”. Pertama-tama dipembahasan bab ini akan dipaparkan mengenai asal-usul dari toponimi kata ‘Mewek’ berdasarkan tradisi oral (lisan atau legenda) yang dipercaya oleh sebagian masyarakat sampai saat ini. Adapun cerita lisan tersebut dibagi menjadi dua cerita untuk pemaparannya. Cerita lisan pertama berdasarkan cerita yang berasal dari penduduk di sekitar DAS Mewek (yaitu meliputi Desa/Kelurahan Tunjungsekar, Tasikmadu, Polowijen, Balearjosari dan Arjosari). Sedangkan cerita lisan yang kedua berdasarkan cerita rakyat Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Walaupun jalan cerita penuturan lisan di dua wilayah tersebut berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kesamaan yaitu ada pada tokoh utamanya yang bernama “Ken Dedes”. Berikut pemaparannya:
I. Cerita Lisan I (Berdasarkan Cerita Penduduk di sekitar DAS Mewek)
Alkisah, pada zaman dahulu hiduplah seorang putri yang cantik jelita bernama “Ken Dedes” yang hidup di Desa Panawijen (sekarang menjadi Kelurahan Polowijen, pen). Kecantikan Ken Dedes yang termahsyur dimana-mana tersebut, akhirnya terdengar sampai ke telinga seorang ‘Akuwu (Penguasa) Tumapel’ yang bernama “Tunggul Ametung”. Tunggul Ametung kemudian menyelidiki sendiri kebenaran berita tersebut dan kemudian membuktikan bahwa kecantikan Ken Dedes memang tiada taranya. Akhirnya timbul niatan jahat dan ambisi dari Tunggul Ametung untuk memiliki Ken Dedes. Tunggul Ametung pun menunggu saat yang tepat untuk dapat melancarkan aksinya guna menculik Ken Dedes.
Pada suatu hari Ken Dedes sedang mandi seorang diri disekitar sungai yang tak jauh dari desanya. Ken Dedes tidak menyadari kalau Tunggul Ametung mengetahui hal tersebut, dan segera melancarkan aksinya. Tunggul Ametung kemudian mendekati Ken Dedes yang sedang mandi tersebut, dan kemudian menculiknya. Ken Dedes kemudian segara dibawa lari ke Tumapel dan dipaksa menjadi istri Sang Tunggul Ametung. Di sepanjang pinggiran sungai tersebut Ken Dedes berusaha menolak, sambil meronta-ronta dan melawan Sang Akuwu, tetapi apa daya Ken Dedes tak mampu karena Sang Akuwu begitu perkasa. Ken Dedes pun hanya bisa pasrah dan ‘menangis’ (mewek, dalam Bahasa Jawa, pen) menerima takdirnya. Di sepanjang pinggiran sungai, dimana Ken Dedes diculik paksa Tunggul Ametung sambil meronta dan menangis inilah, kemudian sungai itu diberi nama “Kali Mewek” atau ‘Sungai Menangis’ untuk mengabadikan peristiwa memilukan tersebut.
Selang tak berapa lama dari peristiwa penculikan yang memilukan tersebut, ayah Ken Dedes yang bernama ‘Mpu Purwa’ pulang dari bepergiannya. Ketika sampai dirumah dan beliau tidak menemukan putrinya, menjadi sangat marahlah Mpu Purwa terlebih lagi setelah mengatahui bahwa anaknya dilarikan oleh orang dan penduduk Desa Panawijen hanya diam saja tidak memberitahu beliau. Akhirnya, Mpu Purwa yang sangat sakti dan murka tersebut mengeluarkan kutukan kepada Tunggul Ametung dan kepada penduduk Panawijen yang diam saja melihat anak kesayangannya diculik:
“Hai, orang yang melarikan anakku, semoga tidak langsung mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris, demikian juga orang-orang Panawijen keringlah sumurnya, semoga tak keluar air dari kolamnya, karena berdosa tidak memberitakan kepadaku bahwa anakku diperkosa orang”. Demikianlah kata Mpu Purwa, “Sedangkan anakku yang telah mempelajari ilmu untuk menerangi dunia, harapanku semoga dia akan menemui selamat dan besar kebahagiaannya”. Demikianlah bunyi sumpah serapah sang Mpu Purwa, pendeta agama Buddha Mahayana dari Desa Panwijen itu.
Tak cukup hanya menyampaikan kutukan saja, kemudian Mpu Purwa menyuruh para makhluk- makhluk halus penunggu “Kali Mewek” untuk menghukum siapa saja yang berani mengambil apa pun yang ada di sepanjang sungai, meskipun hanya sebutir batu. Karena perintah itulah, kemudian menjadikan Kali Mewek menjadi sungai yang sangat angker. Bagi penduduk Desa Panawijen (Polowijen) yang mengetahui kisah tersebut secara turun temurun, tidak akan berani sembarangan mengambil benda-benda di sepanjang sungai itu, karena pasti akan diganggu oleh makhluk halus penunggu sungai. Karena sempat ada beberapa penduduk pendatang yang mengambil benda di pinggiran Sungai Mewek dihantui oleh para makhluk halus penunggu Sungai Mewek.
II. Cerita Lisan II (Berdasarkan Cerita Penduduk Desa Ngijo)
Alkisah, setelah Ken Arok menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok menobatkan dirinya menjadi seorang raja di Kerajaan Tumapel. Ken Arok menyingkirkan Sang Akuwu Tunggul Ametung, penguasa Tumapel sebelumnya dengan cara membunuhnya dengan keris buatan ‘Mpu Gandring’ secara diam-diam. Sebelum pembunuhan terjadi Ken Angrok sempat meminjamkan kerisnya ke rekannya yang bernama “Kebo Ijo”. Kebo Ijo begitu menyukai keris Ken Arok, dan memamerkan ke semua orang disekitarnya seakan-akan keris sakti itu adalah miliknya sendiri.
Alhasil, setelah pembunuhan Akuwu Tunggul Ametung berhasil, dan keris tertancap didadanya, membuat semua orang langsung menuduh Kebo Ijo-lah pelaku dari pembunuhan tersebut. Untuk memuluskan rencananya sebagai penguasa Tumapel Ken Arok kemudian memerintahkan untuk segera menghukum mati Kebo Ijo. Mendengar bahwa Kebo Ijo hendak dihukum mati, membuat Kebo Ijo bersama ketiga rekannya yang bernama Singo Joyo, Singo Kerto dan Singo Rekso beserta beberapa unit pasukan yang setia terhadapnya melarikan diri karena merasa Kebo Ijo tidak bersalah.
Pasukan Tumapel pun segera mengejar dan memerangi pasukannya. Kebo Ijo beserta rekan-rekan dan pasukannya melarikan diri dari satu tempat ketempat lain, dari satu hutan ke hutan lainnya, demi menghindari kejaran pasukan Tumapel. Karena dikejar dan diperangi habis-habisan Kebo Ijo dan pasukannya pun semakin terdesak, mereka kemudian bertahan di sebuah pinggiran sungai. Karena kalah jumlah dan semakin besarnya pasukan Tumapel yang datang dan menyerbu, akhirnya pertahanan Kebo Ijo jebol juga. Begitu kalah, Kebo Ijo pun segera ditangkap dan di bawa dari tempat itu untuk diadili di pusat kerajaaan.
Melihat kemalangan nasib Kebo Ijo, sang mantan Senopati Tumapel, sebagai ‘tumbal fitnah’ Ken Arok demi mendapatkan tahta Tumapel. Ken Dedes sang Permasisuri Tumapel, pun bersedih hati dan kemudian ‘meneteskan air mata’ (mewek). Akhirnya sungai tempat bertahan Kebo Ijo dari serangan pasukan Tumapel tersebut, saat ini dinamakan penduduk sebagai “Kali Mewek atau Sungai Mewek” untuk mengenang kesedihan Ken Dedes melihat nasib Sang Kebo Ijo.
***
Demikianlah, paparan dua buah cerita rakyat sebagai dasar dari argumen mengenai asal usul mengapa sungai tersebut dinamakan “Sungai Mewek”. Namun, tentu kita tidak boleh terburu-buru untuk menetapkan dasar legenda di atas sebagai asal-usul dari nama Sungai Mewek. Perlu penelusuran historis berdasarkan bukti tertulis untuk menetapkan dari mana asal-usul Sungai Mewek. Dan berikut ini adalah pembahasannya.
D. Asal-Usul Nama Sungai Mewek Berdasarkan dari Data Prasasti
Jika dikaji dan diteliti dengan cermat terdapat sebuah petunjuk penting berdasarkan data tertulis untuk mengungkap asal-usul nama Sungai Mewek. Data tertulis yang dimaksud adalah data dari “Prasasti Wurandungan B”. Prasasti Wurandungan ditemukan di Malang, Jawa Timur. Dipahatkan pada 7 buah lempeng tembaga. Prasasti ini dikeluarkan pada hari Rabu Wage, tanggal 10 suklapakşa, bulan Phalguna, tahun 865 Śaka atau tanggal 7 November 944 Masehi. Śrī Mahāraja Pu Siṇḍok Śrī Iśānawikrama Dharmottuńgadewa memberi anugrah kepada Dang Puryyat berupa tanah yang meliputi seluruh wilayah Kanuruhan. Seluruh tanah itu dijadikan sīma, terutama tempat bangunan suci sang hyang dharma kahyangan i wurandungan berada (Setrawati, 2009:72).
Alih aksara Prasasti Wurandungan tersebut dilakukan oleh seorang ahli bahasa kuno dari Belanda yang bernama ‘Jan Laurens Andries Brandes’, Brandes mencatat angka tahun dari prasasti tersebut adalah 865 Śaka dan mencatatnya dalam bukunya yang berjudul “Oud Javansch Oorkonden (O.J.O)” dengan nomor L (50). Informasi mengenai ‘Sungai Mewek’ dapat kita ketahui pada lempeng prasasti tembaga Wurandungan B itu, tepatnya pada lempeng ke empat (4) A-B yang berbunyi sebagai berikut:
• 4a. sapi prāṇa 40 wḍus prāṇa 80 aṇḍaḥ limang gagalaḥ samangkana kweḥnya tan kaknan drawyahaji de sang mangilala saparanana sowara ājñā haji i sang hyang kaswaban i sang kagotran mwang pinghai kawaligěran samangkana deyanyu i sapinasuk ning watěk kanuruhan hujung waharu sadŗwyahajinya kabeḥ mangkana rasa sang hyang ājñahaji pamūjā ikang masambewahāra tan kawardhakana umilwa apuṣpapūrwwaka ni kāryya bhaṭāra praṇatapraṇamya kadharmman sang bhujangga mangarcchanāpuspa paḍa manūja maniwabhakti sakweḥnira aniwaśika ri kāla ni kapū
• 4b. jāning kanuruhan irīka ta ng kawaligěran makāryya ri kāla ni kapūjan i sang hyang rahyangta mwang i sang hyang kaswaban ya ta matangnyan wineḥ tumuta sakapagěḥ sakawnang ning watěk kanuruhan atěhěr dinūman sīmā lmaḥ umaḥ gaga sīmā sawaḥ ri tahun (talun?, catatan penulis) kaliḥ jěng kapramāṇan sangkeng kanuruhan simā sawaḥ ring panawijyan 13 jöng kingkaboringaranya sawaḥ kawaligěran kapramāṇa sangkeng kanuruhan ‘suwakan’ sa jöng gaga rwang jöng kulwaning parhyangan gaga kulwaning gurubhakti kawaligěran kapramāṇa sīmā mangkana yan pamūjā i sang hyang rahyangta saji ning ma
• 5a. ngantukakěn kbo buñcang pirak ku 2 pakrimaḥ ngaranya kalasa wahu pakuṇḍan hayā(m) satali sukat sa 1 sang hyang kagotran saji ku 1 hayā(m) satali kalasa mwang sawaḥ tan kawādhakana pratyaya dlāha pratyakṣa pingsor ning rasānugraha śrī mahārāja yatika kinona kěn prayatnakna pagěhakna de sang manghyang watěk kanuruhan tan tibāna wādhaka yatanyantan pangawanawuna tan kaknana pramādāgěng yathānyantuwahu pakuṇḍan wahu sukat sa 1 sajining makāryya hajangan dyus susuci ngaranya tan karuwa ta tapwa sakatama tinmu ring gu (Brandes, 1913:105-107).
Dari berita Prasasti Wurandungan diatas yang berkaitan dengan nama Sungai Mewek dan terdapat pada bagian lempeng ke 4 pada bagian B yang dapat dipetik artinya kurang lebih mengungkapkan kalimat sebagai berikut:
• 4b. Pamujan di (wilayah) Kanuruhan, yang pada waktu itu diberikan guna kebutuhan pemujaan kepada Sang Hyang Rahyangta dan kepada Sang Hyang Kaswaban, yaitu diberikan menurut ketetapannya yang diperoleh di wilayah Kanuruhan. Selanjutnya diberikan oleh Kanuruhan tanah Sima Pagagan dan Sima Sawah di Tahun (Talun?) seluas 2 jung. Sima sawah di Panawijyan seluas 13 jung, yang dapat dikatakan seperti kerbau kering (mungkin kondisi tanahnya yang kering), diberikan oleh Kanuruhan, (yaitu) ‘Suwakan’ 1 (satu) jung; Pagagan 2 (dua) jung (yang terdiri dari) Pagagan di sebelah barat parhyangan dan Pagagan di sebelah barat guru bhakti (?); itulah luas sima yang diberikan, demikian itu bagi (kelangsungan) pemujaan kepada Sang Hyang Rahyangta dengan sesaji dari hasil pendapatan (sima tersebut) yaitu kebo buncang (kerbau untuk kurban); perak 2 kupang (ukuran satuan berat perak); Pakrimah (?), tikar baru, tempayan/tungku api untuk kurban, ayam seikat, dan rumput 1 sa (?) (Suwardono, 2005:34-35).
Kata ‘Suwakan’ pada lempeng 4B tersebut perlu mendapat perhatian lebih. Menurut arti harfiahnya dalam Bahasa Jawa arti kata “Suwakan” adalah “blumbangan pinggir kali (kalèn) dianggo ngingu iwak (sebuah kolam empang dipinggir sungai untuk memelihara ikan)” (Poerwadarminta, 1939:577). Tetapi jika arti ini secara harfiah kita terima maka tentu patut disangsikan. Mengapa memelihara ikan saja memerlukan lahan sebesar “1 jung (7 are, 1 are sama dengan 100 meter persegi, pen)”? Apalagi memeliharanya di tempat yang tandus dan kering, sedang tanaman padinya saja padi gogo (tadah hujan) akibat saking keringnya tempat yang disebut dalam prasasti diatas. Maka dari itu perlu dicari arti dan makna lain untuk mengartikan kata “Suwakan” tersebut.
Menurut Suwardono (2005:64), kata ‘Suwakan’ yang dimaksd dalam teks Prasasti Wurandungan, lebih tepat dartikan kontes katanya menjadi “disuwak=disobek”. Adapun yang disuwak atau disobek itu adalah aliran sungai besar dekat dengan persawahan padi gogoh tersebut, untuk dipergunakan aliran ‘sobekannya’ guna keperluan pengairan persawahan padi gogoh itu. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Cahyono (2013:127), bahwa huruf konsonan “W”, pada kata “Suwak” dapat tertukar dengan huruf konsonan “B”, sehingga ‘Suwak’ dapat disebut juga ‘Subak’. Dalam konteks ini kata “suwak” dalam Prasasti Wurandungan B, sama dengan jaringan irigasi teknis yang ada di Bali yang lazim disebut “subak”. Dengan demikian subak tidak melulu terdapat di Bali, namun pada masa lampau juga terdapat di Jawa.
Kata Suwak (Sobek), sendiri jika mendapat awalan kata ‘Ma’, menjadi “Masuwak”. Awalan “Ma” dalam tatanan bahasa Jawa Kuno menyatakan perbuatan, sifat dan keadaan yang dapat diterjemahkan degan awalan ber, menjadi, dalam keadaan, dan me (Wojowasito, 1982:08). Dengan demikian “Masuwak” dapat berarti ‘menjadi sobek’ atau ‘dalam keadaan sobek’. Berdasarkan dari analisa tersebut, Suwardono (2005:65) berkesimpulan bahwa yang menjadi sobek atau dalam keadaan sobek (Masuwek) tersebut adalah “sungai induk yang dibedah” tersebut. Kata “Masuwak” sedikit demi sedikit mengalami perubahan bunyi yaitu: “Masuwak” menjadi “Masuwek” lalu disingkat menjadi “Mawek” dan akhirnya berubah menjadi “Mewek”. Dalam kenyataan dilapangan memang Sungai Mewek inilah yang “disobek” untuk saluran air. Demikianlah sehingga menurut anggapan umum bahwa nama Sungai Mewek berasal dari orang yang “Mewek” atau menangis, perlu dipertimbangkan lagi kebenarannya.
E. Kesimpulan dan Penutup Tentang Pembahasan Sungai Mewek
Dari banyaknya paparan panjang lebar diatas, dapatlah kita tarik sebuah kesimpulan bahwa Sungai Mewek adalah salah satu dari sekian banyak ‘anak’ Sungai Brantas, Tour Bromo,yang memiliki arti penting bagi masyarakat desa yang dilaluinya. Sungai Mewek yang membawa kesuburan bagi daerah-daerah yang dilewatinya tersebut, mengaliri setidaknya lima buah kelurahan yang ada di Kota Malang, yaitu Kelurahan Tasikmadu, Kelurahan Tunjungsekar, Kelurahan Polowijen, Kelurahan Balearjosari dan Kelurahan Arjosari.
Adapun anggapan bahwa Sungai Mewek berasal, dari tangisan putri “Ken Dedes”, perlu mendapat tinjuan ulang karena terdapat sumber data baru dari “Prasasti Wurandungan B”. Petunjuk dari prasasti itu adalah adanya kalimat “Suwakan”, yang konteks kalimatnya mengarah pada “saluran irigasi”. Kata “Suwakan” itu kemudian bertransformasi menjadi kata berimbuhan “Ma”, yaitu “Masuwak” sedikit demi sedikit mengalami perubahan bunyi yaitu: “Masuwak” menjadi “Masuwek” lalu disingkat menjadi “Mawek” dan akhirnya berubah menjadi “Mewek”. Namun demikian, apapun itu kelangsungan ekologi dan budaya di sekitar desa-desa di DAS Mewek harus tetap kita jaga kelestariannya. Semoga!
DAFTAR PUSTAKA
Adam, M.A. & Maftuch. (2014). ‘Usaha Pelestarian dan Perlindungan Kali Mewek, Kota Malang dalam Rangka Pengelolaan Daerah Aliran Sungai’. Dalam Journal of Environmental Engineering & Sustainable Technology, Edisi November 2014, Vol. 01, No. 02. Hal: 111-114. Malang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM)-Universitas Brawijaya.
Brandes, J.L.A. (1913). Oud Javaansche Oorkonden, Nagelaten Transcripties Van Wijlen Dr. J.L.A. Brandes. Uitgegeven door N.J. Krom. VBG LX. Batavia: Albrecht & Co’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Cahyono, M.D. (2013). Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Malang.
Daljoeni, N. (1984). Geografi Kesejarahan II Indonesia. Bandung: Penerbit Alumni.
Darmanto, D. & Sudarmadji. (2013). ‘Pengelolaan Sungai Berbasis Masyarakat Lokal di Daerah Lereng Selatan Gunung Merapi’. Dalam Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 20, No. 2, Juli 2013. Hal: 229-239. Yogyakarta: Fakultas Geografi-Universitas Gadjah Mada.
Depdiknas. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Hursh, D., Bosch, M.J.W. & Paranpye, V. (2008). Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Sebuah Pendekatan Negosiasi. Penerjemah: Soelistyowati, H. dan Hadi, H. Yogyakarta: INSIST Press.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). (2013). Malang: Kecamatan Lowokwaru.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai.
Peta Kota Malang dan Perkembangannya. (Tanpa Tahun). Surabaya: Harsena.
Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Jawa. Batavia: J. B. Wolters' Uitgevers-Maatschappij N. V. Groningen.
Setrawati, N. (2009). Perdagangan Pada Masa Pu Siṇḍok Berdasarkan Data Prasasti. Skripsi Tidak Diterbitkan. Depok: Fakultas Ilmu Budaya-Universitas Indonesia.
Suwardono. (2005). Mutiara Budaya Polowijen Dalam Makna Kajian Sejarah, Cerita Rakyat, dan Nilai Tradisi. Malang: Dinas Pariwisata, Informasi dan Komunikasi Kota Malang Bidang Kebudayaan-Pemerintah Kota Malang.
Wojowasito, S. (1982). Kawiçastra. Jakarta: Dajambatan.
Komentar
Posting Komentar