Postingan

Kampung Tematik di Malang Urung Beroperasi

Gambar
  MALANG KOTA – Meski sudah turun level PPKM, izin operasional kampung tematik di Kota Malang masih belum mendapat lampu hijau. Sebanyak 22 kampung tematik yang tersebar di seluruh wilayah Kota Malang pun kini masih belum beroperasi. Ketua Forum Komunikasi (Forkom) Kelompok Sadar Wisata (Poldarwis) Kota Malang Isa Wahyudi menuturkan, pengelola kampung tematik diwajibkan untuk memiliki QR Code guna pengoperasian aplikasi PeduliLindungi. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, Pemkot Malang masih mengupayakan pengajuan izin ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Praktis, hingga saat ini aktivitas wisata di 22 kampung tematik di Kota Malang masih dilakukan secara daring. “Jadi kayak acara kemarin-kemarin itu digelar secara live YouTube , kalau untuk dibuka masih nunggu pemkot,” katanya. Pria yang kerap disapa Ki Demang tersebut menegaskan, seluruh kampung tematik sudah siap dibuka dengan pemberlakuan protokol kesehatan ...

Asal Nama Desa Sumbersari

Gambar
  ASAL NAMA DESA SUMBERSARI Sekarang ini Desa Sumbersari sudah menjadi sebuah Kelurahan dan masuk di wilayah Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Kelurahan Sumbersari berbatasan dengan kelurahan berikut. Di sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Ketawanggede dan Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru. Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Oro-oro Dowo dan Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen dan Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun. Di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru dan Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun. Sebelum bernama Sumbersari desa ini bernama Ketawangsari, sebagai desa yang bersebelahan dengan desa Ketawanggede. Saya belum mendapatkan data pada tahun berapa nama Ketawangsari berubah menjadi Sumbersari. Saat ini masyarakat Sumbersari terutama yang sudah berusia lanjut membagi Sumbersari ke dalam 2 wilayah yaitu Sumbersari Lor (utara) dan Sum...

Kampung Polowijen

Gambar
Menuju Bedah Kampung Polowijen Minggu malam, 2 April 2017 BEDAH SEJARAH SIMA DAN MANDALA BUDDHIS PANAWIIJYAN : MUASAL KEN DEDES SANG ‘STRINARESWARI’ Oleh: M. Dwi Cahyono A. Gambaran Paleo-Ekologis Letak Polowijen berada di bagian paling utara Kota Malang, tepat di perbatasan dengan wilayah Kabupaten Malang. Polowijen maupun Bantaran yang terletak di sebelah selatannya dibelah oleh jalan poros puba, dengan arah utara-selatan. Jalan poros ini menghubungkan Kota Malang dengan Pasuruan, Surabaya, dan daerah-daerah lain di bagian utara. Jalur transportasi KA yang dibangun tahun 1876 juga membelah wilayah keduanya. Wilayah Polowijen dibelah pula oleh aliran Sungai Mewek, yang bertebing curam dan cukup lebar, dengan arah aliran barat-timur. Sebagai permukiam lama, Polowijen menyisakan data lingkungan kuno. Salah satu diantaranya berupa sumber air besar. Sejak tahun 1990-an, sumber air yang oleh warga setempat dinamai dengan “Sendang Dedes” atau “Sumur Windu” ini mongering. Antara ...

PRATIPA

Gambar
PRATIPA (PRASAWYA TIRTHA PAWITRA) : TIRTHAYATRA MENGITARI ARDI SUCI PENANGGUNGAN Oleh: Patembayan Citralekha dan Ecoton A. Prosesi Melingkar Ber-Tirthayatra Bergerak sendirian atau bersama melingkari sesuatu yang diyakini sebagai penting dan bahkan suci merupakan pola ritus yang dijumpai pada banyak religi. Prosesi melingkar (circle procetion) dengan demikian menjadi ‘pola ritus’ yang nyaris universal. Dalam ukuran amat besar, sesuatu yang menjadi titik sentrum (axis) dari prosesi melingkar itu bisa berupa gunung suci (holy mountain). Prosesi yang dikaukan data berupa bergerak melingkarinya searah dengan jarum jam (pradhaksina) atau sebaliknya belawanan dengan arah jarum jam (prasawya). Dalam prosesi tersebut diziarahi tempat-tempat yang penting atau bahkan suci, semisal sumber-sumber air (tuk) suci berserta kolam buatan yang sudah barang tentujuga disakralkan yang berupa patirthan. Untuk konteks demikian, perjalan suci (yatra) ke beberapa sumber/kolam air suci (tirtha) dapat dina...

Sungai Mewek

Tinjauan Historis Asal-Usul Nama Sungai Mewek Disusun Oleh: Devan Firmansyah (Admin) A. Mengenal Sungai Sebagai Bagian dari Peradaban (Pendahuluan) Menurut ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’ (Depdiknas, 2001:1104), sungai adalah aliran air yang besar. Sedangkan menurut ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai’, menyatakan sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau  buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di  dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan  dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Sungai sendiri memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan oleh makhluk hidup khususnya oleh manusia.  Menurut Darmanto dan Sudarmadji (2013:232-234), ada beberapa hal yang dapat dimanfaatkan dari aliran sungai, yaitu: a) Digunakan untuk irigasi pertanian; b) Dibendung di beberapa sisinya untuk membuat sebah kolam ikan, guna keperluan usaha perikanan; dan c) Sungai yang bersih airnya dapat digunakan untuk keperluan rumah...

TELISIK ‘BUNGKER’ BARENG

RUANG LINDUNG DALAM PERUT BUMI JELANG PERANG DUNIA II Oleh: M. Dwi Cahyono A. Perlindungan Diri dalam Kondisi Perang Salah satu kebutuhan dasar (basic need) manusia adalah kebutuhan akan perlindungan. Terlindung pada kondisi damai, dan terlebih lagi dalam era perang, adalah kebutuhan setiap manusia. Untuk kepentingan itu dilakukan beragam upaya, termasuk dengan membangun fasilitas khusus untuk melindungi diri dari bencana perang, yang di dalam kosa kata Bahasa Jawa dinamai ‘plindungan’, atau ‘perlindungan’ dalam Bahasa Indonesia, atau ‘bungker’ dalam Bahasa Inggris. Salah sebuah ‘eks bungke’r yang secara relatif (relative dating) diasalkan dari Masa Akhir Pemerintahan Hndia-Belanda di Kota Malang – yang dalam sepekan terakhir di minggu ke-4 bulan Februari 2017 – marak dibcarakan di media cetak maupun media sosial adalah eks bungker yang terletak di penghujung selatan Ijen Boulevard, yang masuk dalam wilayah Keluraham Bareng, tidak jauh di sebelah utara-barat Pasar Bareng. Ada banya...

GUNUNG BUDHEG DALAM SEJARAH

Oleh: M. Dwi Cahyono “Budheg’ adalah nama gunungmu, sebuah bukit menjulang di penghujung barat Perbukitan Walikukun. ‘Joko Budheg’ menjadi sebutan bagi tokoh peran dalam legendamu. Kendati berunsur nama ‘budheg’, namun tidaklah budheg indra dengarmu pada jerit pilu karya leluhurmu yang disiakan, yang karena usang maka tak banyak dikenang. Walau wujud fisikmu berupa arca batu amat besar, tetapi bukan membatu kepekaan rasa budayamu. Gunung Budheg yang bagai cikrak menelungkup bentuknya tak sekedar petanda alam biasa, namun sekaligus petanda mengenai sepenggal sejarah peradaban di Bhumi Ngrowo. Legenda ‘Joko Budheg’, yang meski hanya merupakan tradisi lisan,.namun tersirat fakta sejarah di balik kisah rekaannya. Suatu fakta tentang kaum rsi yang menjadikan tapa sebagai inti aktifitas religisnya dalam memasuki usia senjanya. Semenjak Masa Akhir Kerajaan Kadiri areal Gunung Budheg telah djadikan mandala kadewagurwan sekaligus karsyan utama di Tlatah Jawa Masa Hindu-Buddha. Go...